SUDAHI PERANG OPINI MENGENAI PARADOX IBU BEKERJA VS IBU DIRUMAH

“Opini sederhana atas keberadaan dan pentingnya menjaga kesehatan mental sosok ibu yang berdampak pada tumbuh kembang dan kebahagiaan anak generasi bangsa”

Pepatah lama mengatakan bahwa “Cinta Anak Sepanjang Galah Tetapi Cinta Ibu Sepanjang Masa”. Dari ungkapan ini kita sudah memahami bahkan merasakan cinta kasih seorang ibu pada setiap anaknya mulai dari dalam kandungan bayi, balita, remaja, dewasa untuk mendampingi anak dalam menjalani tugas-tugas perkembangannya (task developmental) secara optimal.  Psikolog perkembangan Havighurst (Dalam Hurlock, 1978) menyatakan bahwa seorang anak yang mampu menjalani tugas-tugas perkembangannya dengan baik akan mampu membentuk kepribadian yang adequate, matang dan sehat baik secara fisik maupun mental. Menjadi seorang ibu merupakan sebuah peran sentral dalam sebuah keluarga, khususnya anak-anaknya.

Seorang ibu memiliki peran baik secara biologis seperti; kelahiran & pasca kelahiran, penyedia nutrisi dan kesehatan maupun psikologis seperti; menciptakan kedekatan (attachment), kehangatan, rasa aman (safety) dan sense of personal bagi anak-anaknya (Joanne MacDonald, 2010). Oleh karena itu, untuk menjalani perannya dengan optimal maka terdapat 3 dimensi dari kesehatan (wellness) yang harus dimiliki oleh  ibu (Dalam, mothers Mental Health Toolkits, 2010) , antara lain: Body Health (terpenuhinya nutrisi, kecukupan waktu istirahat dan olahraga/gerak aktif); Mental Health (stress management dan informasi/pengetahuan eksternal yang mendukungnya melakukan tugas); Emotional Health (Kesempatan untuk melakukan pengembangan diri/aktualisasi diri).

Photo by mentatdgt from Pexels

Sayangnya, saat ini seiring dengan perkembangan era digital tidak secara serta memberikan pengaruh positif melalui bentuk dukungan emosional namun juga lebih menyudutkan peran seorang ibu yang dilihat dari keberadaannya secara fisik dan kuantitas waktu dengan anaknya, yakni paradox Ibu Bekerja (working moms) maupun ibu yang tinggal dirumah (stay at home moms). Hal ini terlihat dari “perang unggahan” maupun komentar yang lebih pada membanding-bandingkan tentang siapa yang lebih baik/lebih mulia/lebih superior. Media komunikasi elektronik memberikan peran penting pada perkembangan informasi sekaligus stressor bagi seorang ibu, khususnya diperkotaan (Hall and Irvine, 2009).

Baca Juga: Untuk Masa Depan Anak, Mana yang Perlu Kita Siapkan? Tabungan, Asuransi, atau Investasi Pendidikan.

Tidak sedikit ibu merasa terpojok, merasa bersalah (feeling guilty) yang berdampak pada kesehatan mentalnya dan secara tidak langsung akan memberikan efek samping pada pola pengasuhan pada anaknya.  Di Indonesia sendiri ditunjukkan melalui data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 mencatat bahwa angka prevalensi depresi perempuan sebesar 7.4% lebih tinggi dari  laki-laki yang masih 4.7% sebagaimana data juga menunjukkan bahwa secara keselutuhan angka prevalensi depresi meningkat sebesar 6.1%. Hal ini menjadi sebuah perhatian tersendiri  untuk pemerintah nantinya guna menangani permasalahan terkait kesehatan mental, khususnya perempuan. Merujuk dari hasil Harvard Study oleh McGinn (2018) terdapat beberapa  faktor-faktor yang dinilai memepengaruhi kesehatan mental ibu, antara lain; keterbatasan informasi dan pengetahuan atas pentingnya kesehatan mental ibu dalam pengasuhan anak, stigma masyarakat atas peran ibu, low self worth pada ibu, fearness ibu terkait pengasuhan anak yang dibantu caregiver, serta keterbatasan finansial dan akses transportasi.

Photo by Helena Lopes from Unsplash

Apabila dikaitkan dengan stigma masyarakat di era digital ini yang membandingkan peran antara ibu pekerja dan ibu dirumah yang dianggap memberikan dampak pada pertumbuhan dan perkembangan anaknya ini dipatahkan melalui riset Harvard Study (McGinn, 2019) melalui survei selama 10 tahun pada lebih dari 100.000 anak dari 29 negara, termasuk Indonesia menunjukkan  bahwa anak-anak dari pengasuhan ibu pekerja (working moms) sama bahagianya dengan pengasuhan ibu dirumah (stay at home mom).  Terlebih dalam survei ini dikaitkan dengan kepuasan hidup (life satisfaction) dan kebahagiaan (happiness) yang dirasakan oleh remaja adalah sama. Hasil ini  diharapkan mampu menghapus inferioritas dan rasa bersalah yang dialami oleh peran setiap ibu.  Hasil penelitian pendukung lainnya melalui data Indonesia Family Life Survey (IFLS) 2015 juga menunjukkan bahwa partisipasi ibu bekerja (anak usia 0-3 tahun) berpotensi memberikan pengaruh negatif pada perkembangan kognitif. Namun pengurangan skor ini sangat kecil dibanding pengaruh variabel lain seperti kompensasi pemberian ASI, partisipasi sekolah anak dan peningkatan konsumsi gizi yang tercukupi.

Baca Juga: Investasi yang Bisa dipilih di Tengah Pandemi

Berdasarkan hasil ini nantinya mampu membuka mata bahwa setiap ibu memiliki peran yang sama besarnya bagi tumbuh kembang anaknya dan perlunya dukungan satu sama lain. Disamping itu perlunya sebuah gerakan untuk mendukung kesehatan mental ibu sebagai pertolongan pertama mengatasi depresi sekaligus menjaga kesehatan mental ibu melalui “Mothers Mental Health Toolkit”, yang terdiri dari; Mother Wellness & Self Care (perlunya penanaman self-worth, pengembangan diri, kecukupan waktu istirahat); The Mothering Role (menjaga kualitas kedekatan anak, komunikasi efektif, manajemen waktu), Community Action (mengikuti kegiatan positif, membangun relasi dan stop labeling pada ibu) guna menjaga kesehatan mental ibu yang berdampak pada generasi bangsa kedepan.


Ditulis oleh:

Herlina Subandriyo, M.Psi.,Psikolog

Psikolog Chaakra Consulting

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll Up