YUK KITA BUKA RAHASIA TIK-TOK MENJADI PERUSAHAAN GLOBAL

Pertama kali hadir di Cina pada 2016, TikTok kini telah jadi fenomena global. Hasil Riset dari Sensor Tower sebuah lembaga riset global bahkan menempatkan TikTok (atau dikenal dengan nama Douyin di Cina) pada urutan kedua dalam daftar aplikasi yang paling banyak diunduh selama kuartal pertama 2020. Selain jumlah unduhan yang meningkat, pendapatan TikTok di 2019 juga mencapai US$176,9 juta (sekitar Rp2,4 triliun). Angka ini merepresentasikan 71 persen dari total pendapatannya sejak pertama kali diluncurkan, yaitu sebesar US$247,6 juta (setara Rp3,4 triliun).

Sebagaimana kita ketahui, bahwa hanya dalam 2 (dua) tahun, Tik Tok telah muncul untuk menyaingi perusahaan seperti Netflix, You Tube, Snapchat dan Facebook dengan lebih dari 1 (satu) miliar unduhan di 150 pasar seluruh dunia dengan 75 bahasa. Aplikasi ini menampilkan kesenangan mulai dari komedi hingga sikronisasi bibir hingga kiat perawatan anjing yang dibuat dan bisa dibagikan pengguna melalui ponsel mereka.

Baca Juga: Menghilangkan Sifat Overthinking

Konten yang unik, cerewet dan konyol tersebut telah memikat pengguna pemuda di seluruh dunia. Salah satu kunci sukses mereka menurut Zhang Yiming  founder tik-tok dikarenakan mereka mampu menjangkau membuat aplikasi yang menyesuaikan bahasa dengan bahasa negara target pasar. Selain itu, tik-tok membuat 2 (dua) versi aplikasi mereka.

Aplikasi satu khusus untuk didalam negeri China dan satunya untuk pasar global. Dimana hal ini untuk mensiasati kebijakan pemerintah China great firewall yang mengatur internet dan memblokir akses ke beberapa situs media sosial global. ByteDance perusahaan pemilik tik-tok, mendapatkan nilai valuasi sebesar $ 78 miliar dan telah mendapatkan pendanaan dari pemodal ventura terkemuka seperti sequoia capital china, softbank group, investor ekuitas swasta USA KKR.

Zhang Yiming  founder tik-tok merupakan mantan insinyur Microsoft. Ia mempunyai cita-cita untuk menjalankan perusahaan tanpa batas. Zhang, merupakan salah satu generasi baru pebisnis teknologi China yang tumbuh di dalam negerinya dengan visi internasional. Zhang, terinspirasi dari kesuksesan awal pebisnis teknologi China di akhir 1990-an seperti Robil Li pemilik Baidu, Jack-Ma pendiri Alibaba dan Pony Ma pendiri Tencent.

Aplikasi tik-tok ini sebenarnya merupakan hasil akuisisi ByteDance terhadap Musical.ly. Sehingga Musical.ly diubah namanya menjadi tik-tok pada bulan Agustus 2018. Aplikasi ini, mendapatkan prestasi dengan 30 (tiga puluh) juta pengguna baru dalam tiga bulan.

Baca Juga: Membangun Program Loyalitas Pelanggan: 7 Tips Program yang Dapat Anda Coba

Lalu darimana sumber uang mereka? tik-tok menghasilkan uang melalui iklan dan penjualan barang virtual seperti emoji dan stiker pada penggunanya. Kekuatan dari aplikasi ini adalah interface yang mudah digunakan yang menggabungkan hiburan dan berita click bait (berita yang hanya mencari sensasi agar orang mau meng-kliknya) didukung dengan artificial intellegence (AI) yang kuat untuk mencocokkan selera pengguna secara tepat berdasarkan kebiasaan dan kesukaan penggunanya.

Para pengguna tik-tok rata-rata adalah keluarga menengah-kebawah dimana mereka dengan akses hiburan yang terbatas. Sehingga dominasi tik-tok pada mereka cukup kuat. Hal menarik lainnya, bahwa misi ByteDance sejalan dengan ambisi pemerintah China untuk menjadikan AI sebagai prioritas dalam perlombaan dominasi teknologi global. ByteDance mempunyai cita-cita untuk menggabungkan kekuatan AI dengan pertumbuhan internet seluler. Tujuan akhirnya adalah merevolusi cara manusia mengkonsumsi dan menerima informasi.

Lalu apa bedanya penggunaan AI pada tik-tok dengan AI pada aplikasi Facebook, Netflix, Spotify dan Youtube. Pada umumnya, penggunaan AI pada aplikasi Facebook, Netflix, Youtube ataupun Spotify hanya sebatas merekomendasikan. Sedangkan AI pada aplikasi tik-tok digunakan untuk memutuskan video mana yang akan ditampilkan kepada pengguna.

Dengan kata lain, tik-tok “mendikte” penguna dan mempelajari respon preferensi mereka sepenuhnya. Ini-lah sebenarnya trend pasar aplikasi dunia. Dimana peranan AI, akan semakin terlihat dominan untuk masa-masa mendatang. Tentu saja kami yakin bahwa model bisnis tik-tok akan menginspirasi para inovator teknologi dari negara-negara sedang berkembang termasuk Indonesia untuk mencoba mengembangkan aplikasi yang lebih dinamis lagi. Jadi apakah sahabat tertarik untuk mengembangkan bisnis berbasis teknologi AI?

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll Up