Penguatan Identitas Kepemimpinan sebagai Pereduksi Angka Bunuh Diri di Kalangan Pemuda Indonesia

Kemarin, pada tanggal 10 September 2020 diperingati sebagai hari pencegahan bunuh diri di dunia (World Suicide Prevention Day). Adapun badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan ada lebih dari 800 ribu orang di dunia karena bunuh diri, atau 1 kematian setiap 40 detik. Jika melihat dari data WHO 2010, angka bunuh diri di Indonesia mencapai 1.6-1.8 per 100.000 jiwa yang tergolong cukup tinggi sehingga menjadi sebuah permasalahan tersendiri untuk menjadi perhatian pemerintah disamping permasalahan Pandemik yang sedang melanda Indonesia.

Bahkan permasalahan pandemik ini juga nantinya akan mampu diprediksikan memicu meningkatnya angka bunuh diri apabila tidak diimbangi dengan langkah preventif secara tepat.  Perihal tingginya angka bunuh diri di Indonesia ini juga disumbang sebagian besar berasal dari penduduk usia muda (16-30 tahun) dan diprediksi akan terus naik  sebagaimana prediksi WHO dari tahun-tahun sebelumnya.

Baca Juga: Investasi yang bisa dipilih ditengah Pandemi

Permasalahan tingginya angka bunuh diri di Indonesia pada pemuda dewasa ini juga tidak lepas dari pemaknaan tentang “siapa, apa dan bagaimana” dari identitas diri (self-identity) pemuda itu sendiri. Dalam pandangan psikologi Kurt Lewin (1947) melalui Teori Medan bahwa perilaku manusia merupakan perpaduan dari karakteristik kepribadian dan lingkungannya.

Oleh karena itu, pembentukan identitas sangat dipengaruhi oleh karakteristik lingkungan terdekat sebagaimana yang ada saat ini bahwa kita sudah memasuki era millennial dimana segala informasi bisa diperoleh dengan mudah, interaksi dunia maya pun menjadi tren dan penentuan figur-figur contoh/idola juga sangat beragam tergantung pada masing-masing perspektif masing-masing.

Secara psikologis, pemuda yang memasuki masa transisi remaja dan dewasa awal akan memiliki pengalaman terkait krisis identitas “identity crisis”. Pada fase ini, pemuda mencoba untuk menemukan  bagian identitasnya yang diperoleh dari orang tuanya maupun lingkungan sekitar yang memberinya kekuatan kemudian berusaha untuk disesuaikan dengan actual self nya untuk menuju self-identity yang otentik.

Secara psikologis, pemuda yang memasuki masa transisi remaja dan dewasa awal akan memiliki pengalaman terkait krisis identitas “identity crisis”

Kesalahan dalam menemukan identitas berkaitan dengan kesalahan figur ideal yang diyakini sebagai ideal self memberikan pengaruh atas siapa dirinya. Dalam kondisi ini akan membuat individu mudah untuk dipengaruhi dan terjebak dalam ideal self sebagaimana yang dipersepsikan atas pengaruh orang lain.

Baca Juga: Rumus Menang Bisnis di Era Pandemi COVID-19

Selain itu, individu dalam tahap ini berada dalam kondisi psikologis yang suka mengeksplorasi baik terkait dirinya sendiri (self-identity) hingga lingkungan sosialnya. Para pemuda yang antusias dalam mengeksplorasi hal yang membuatnya tertarik dan cenderung mengikuti “ideal self” yang ditanamkan. Maka tidak jarang bahwa saat ini pemaknaan tokoh/figur idola yang ada di banyak media yang diminati para pemuda lebih mengarah ke fisik maupun kemampuan persuasif semata menjadi sebuah tolak ukur dari ideal self para pemuda saat ini dan bukan dititikberatkan pada pemaknaan kuat (strengths) dari idola tersebut yang diproleh dari values internal maupun kapasitas moral yang mumpuni untuk dijadikan sebagai figur idola.

Photo by cottonbro from Pexels

Photo by cottonbro from Pexels

Kerentanan pada kondisi ini sangat berpengaruh pada mentalitas dan karakteristik internal dari pemuda itu sendiri. Adapun pembentukan identitas yang sifatnya “kurang kuat” akan membuatnya menjadi pribadi yang “rapuh” oleh lingkungannya bahkan menyebabkan perilaku bunuh diri (suicide) semakin tahun semakin meningkat dari usia produktif.

Pemilihan figur ideal ini sangat penting untuk dimiliki oleh individu, dan memang tidak dihasilkan dalam waktu yang cepat namun berproses secara longitudinal sebagaimana lingkungan dan karakternya, dimana dibahas dalam konsep yang dikenal dengan Leadership Identity sebagaimana dikenalkan oleh Susan Komives (2005).

Pembentukan identitas yang sifatnya “kurang kuat” akan membuatnya menjadi pribadi yang “rapuh” oleh lingkungannya bahkan menyebabkan perilaku bunuh diri (suicide) semakin tahun semakin meningkat dari usia produktif.

Individu yang memiliki identitas kepemimpinan adalah sosok yang  mampu mengenali figur yang tepat untuk dijadikan ideal-self dalam mengeksplorasi dirinya hingga menemukan dirinya yang otentik tanpa ada dominasi intervensi eksternal bahkan menjadikannya merasa bernilai (self-esteem) dan membuatnya tidak terpengaruh orang lain dalam pembentukan jati dirinya.

Baca Juga: Menjaga Keseimbangan Psikologi Anak di Masa Pandemi

Individu yang memiliki identitas kepemimpinan adalah sosok yang  mampu mengenali figur yang tepat untuk dijadikan ideal-self dalam mengeksplorasi dirinya hingga menemukan dirinya yang otentik… menjadikannya merasa bernilai

Oleh karena itu, cara untuk memperkuat self identity melalui penguatan identitas kepemimpinan bagi pemuda sebagai langkah preventif menekan angka bunuh diri dapat dilakukan melalui beberapa langkah, antara lain:

  1. Awareness

  • Peran orang tua untuk memberikan contoh dan terlibat dalam aktivitas anak-anaknya

  • Bagi pemuda, selektif untuk memilih karakter idola yang dijadikan sebagai figure ideal melalui strength dan values yang dimiliki

  1. Exploration/Engagement

  • Berani melibatkan diri pada banyak kegiatan kelompok yang sifatnya positif baik dilingkungan rumah maupun sekolahnya

  • Tidak membatasi diri dalam berinteraksi namun tetap selektif

  1. Leader Identified

  • Tidak mudah percaya dengan informasi/berita yang disampaikan oleh influencer/tokoh media

  • Membiasakan diri untuk mengkroscek setiap fenomena yang ada

  1. Leadership Differentiated

  • Memberanikan diri untuk mengambil peran sebagai pemimpin pada organisasi/kelompok yang ada dilingkungannya

  • Bersedia menerima feedback dan pembelajaran atas kegagalan

  1. Generativity & Integration

  • Bersedia menerima tanggung jawab untuk memberdayakan lingkungan terdekat melalui contoh-contoh perilaku positif yang ditunjukkan

  • Tidak mudah tempramen dalam menerima perbedaan


Ditulis oleh

Herlina Eka Subandriyo, M.Psi., Psikolog

Direktur Chaakra Consulting

Leave Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll Up