MENGELOLA EKSPETASI DIRI SENDIRI
  • by chaakra
  • 17 February 2021

Kita selalu memiliki ekspetasi terhadap beberapa hal. Bahkan Michael Jordan, seorang atlet basket pernah mengatakan bahwa kita perlu berekspetasi sesuatu dari diri kita sendiri sebelum kita bisa melakukan sesuatu.

Memiliki ekspetasi dapat menjadi motivasi, pendorong atau sebagai acuan untuk mencapai standar tertentu. Contohnya ada orang memiliki ekspetasi untuk mampu mendapatkan pekerjaan yang diinginkan atau sekedar mampu lulus sekolah/universitas tepat pada waktunya.

Namun, bila kita memiliki ekspetasi yang terlalu tinggi justru dapat membuat kita menjadi semakin down, stress atau frustasi ataupun menjadi hancur. Kok bisa? Sebelum membahas hal tersebut, kita perlu mengetahui apa itu ekspetasi.

Pengertian Ekspetasi

Menurut kamus Cambridge, ekspetasi adalah apa yang kita percaya atau harapkan akan terjadi di masa depan. Ekspetasi-ekspetasi yang kita miliki tersebut berkembang atau muncul dari kombinasi pengalaman dan wawasan yang kita alami dan miliki.

Konsekuensi Memiliki Ekspetasi

Dalam buku Encyclopedia of Social Psychology yang disunting oleh Roy F. Baumeister, Kathleen D. Vohs (2007), tertulis bahwa ekspetasi menjadi dasar untuk menyiapkan manusia bertindak. Artinya, alasan manusia bertindak disebabkan ekspetasi bagaimana tindakan tersebut dapat memengaruhi dirinya sendiri dan dunia sekitarnya.

Oleh sebab itu, ekspetasi secara langsung memengaruhi bagaimana orang berpikir, merasakan dan bertindak. Mulai dari bagaimana kita berpikir, dan mengelola informasi yang didapatkan, hingga merasakan cemas, gugup, senang, dan sebagainya saat memiliki ekspetasi untuk gagal atau sukses.

Contohnya seorang fresh graduate dengan minim pengalaman kerja dan telah mendengar dari temannya bahwa susah mencari kerja membuat orang tersebut memiliki ekspetasi yang rendah untuk mendapatkan pekerjaan impiannya.

Akibat dari ekspetasi tersebut, fresh graduate tersebut bisa merasa cemas, pesimis dan tidak percaya diri akan mampu mendapatkan pekerjaan yang diimpikannya.

Disisi lain, ekspetasi dapat menjadi pendorong untuk meraih tujuan atau kesuksesan. Contohnya adalah bila fresh graduate mendengar cerita bahwa meskipun mencari pekerjaan akan menjadi sulit, namun masih ada kesempatan untuk bisa bekerja baik di perusahaan besar, kecil ataupun menjadi wirausaha. Orang tersebut akan memiliki ekspetasi yang positif, sehingga membuatnya menjadi optimis dan memiliki rencana untuk mencapai tujuannya.

Memiliki Ekspetasi yang CUKUP Realistis

Penting bagi kita semua untuk memiliki ekspetasi yang sesuai, tidak terlalu rendah dan juga tidak terlalu tinggi. Mengapa?

Bila kita memiliki ekspetasi yang terlalu rendah maka kita tidak memiliki pendorong yang cukup untuk bertindak mencapai apa yang diinginkan. Begitu pula bila kita memiliki ekspetasi yang terlalu tinggi, akan membuat kita menjadi kecewa.

Tidak hanya itu, memiliki ekspetasi yang berlebih dapat memengaruhi mental dan psikologis kita. Perasaan negatif seperti kecewa, frustasi, stress, amarah dan sebagainya bisa terjadi karena ketidakmampuan kita untuk mencapai ekspetasi atau karena ekspetasi tidak sesuai dengan realita.

Photo by STIL on Unsplash

Cara Menyusun Ekspetasi yang Realistis

Berikut ini adalah beberapa cara untuk mengelola ekspetasi kita agar tetap realistis dan tidak terlalu rendah ataupun berlebihan.

  1. Sesuaikan ekspetasi kita dengan situasi yang ada.

Misalnya di situasi pandemi ini, kurangi ekspetasi untuk dapat berlibur di luar kota untuk melindungi diri dan orang lain dari penyebaran COVID-19.

  1. Fleksibel dengan perubahan.

Terkadang realita itu tidak sesuai dengan ekspetasi kita, sehingga kita perlu harus bisa beradaptasi dengan perubahan tersebut.

Misalnya hari ini tidak hujan sehingga kita berekspetasi bisa mencuci kendaraan, namun ternyata besoknya hujan sehingga merasa kecewa karena gagal mencuci kendaraan.

  1. Hindari untuk menghakimi diri sendiri.

Pada saat ekspetasi kita tidak terpenuhi karena faktor luar, hindari perasaan menyalahkan diri. Contohnya pada bulan ini seharusnya bisa menjalankan proyek A dalam pekerjaan tetapi gagal karena pandemi, terjadinya pandemi adalah kejadian di luar rencana.

Tidak seharusnya kita terus memikirkan kegagalan proyek A tersebut, namun mulai memikirkan bagaiman langkah yang bisa dilakukan selanjutnya.


Itulah beberapa tips yang bisa kita lakukan dalam menyusun ekspetasi yang realistis, tidak terlalu rendah dan tidak terlalu tinggi, sehingga tidak mengganggu kesehatan mental kita.

Yuk, daftarkan email melalui “Subscribe” serta nyalakan notifikasi di sosial media kami, agar terus update dengan insight kami di website ini.

Salam, Chaakra

Leave a comment